"Hey! I'm Eggy. Thank's for visiting ga je Blog! Please have a seat and make yourself comfy while reading my blog."

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Februari 2015

Aku yang Dulu Bukanlah yang Sekarang

Hi, folks! Yap, gue balik lagi disini. Pertama gue mau bilang, sorry banget gue makin jarang posting. Jadi alasan gue kali ini jarang posting adalah, gak tau kenapa, laptop gue wifinya gak bisa nangkep sinyal dari hotspot di rumah gue. Gak tau kenapa, tiba-tiba aja, awal Februari itu gue mau post, awalnya sih bisa, tapi tiba-tiba jadi gak bisa. Liat bar signal di pojok kanan bawah monitor laptop kalian? Yap, itu bar tiba-tiba ada tanda silang merah yang artinya gak bisa atau wifi laptop gue mati. Padahal udah gue set jadi on. Kata adek gue sih mesti diinstal lagi drivenya. Gak ngertilah gue, gaptek, cuma bisa make barang doang tapi gak ngerti cara ngerawatnya.

Okay, jadi itu alasan gue. Mohon pengertiannya.

FYI, yang gue pake sekarang ini, laptop punya nyokap.

Umm, oh iya! Ini hari Valentine yaa? Hahahahaha. Terserah. Gue gak ngerayain. Nope, bukan karna gak punya pacar. Gue punya kok, cantik lagi. Namanya Nabilla. Gak percaya? Serius gue. Nih yaa fotonya.

Kamis, 07 Agustus 2014

Benarkah Tuhan Maha Adil?

Aku adalah salah satu contoh yang telah dipermainkan oleh tuhan. Dijadikan bahan candaan. Bahan lelucon untuk hiburannya. Entah apa sebenarnya yang ada dalam pikirannya. Tapi aku yakin, ia sedang tertawa bersama semua pengawalnya.

Apa? Oh tidak, tidak ada yang salah dengan judul post ini. Aku memang benar meragukannya. Mulai meragukannya. Pernahkah kau menyadari, berapa banyak orang yang selalu menyembahnya, mengagung-agungkan nama-Nya namun hidupnya tak pernah lebih baik? Atau bahkan menjadi lebih buruk? Pernahkah kau menyadari betapa banyaknya orang yang sukses dan mendapat hidup yang baik tanpa satu kali pun menyebut nama-Nya? Pernahkah kau menyadari itu semua?

Dari dulu, harga diriku selalu diinjak-injak. Dipandang sebelah mata? Tidak, lebih buruk lagi. Aku tak pernah dipandang. Tak pernah dianggap ada. Aku hanya dianggap sebuah ilusi. Saat itu aku mulai mendekatkan diri dengan tuhan. Berharap mendapat perlindungannya. Pertolongannya. Aku selalu berdoa agar aku bisa menjadi lebih baik. Agar aku bisa seperti mereka. Dianggap ada. Bertahun-tahun aku berdoa. Bertahun-tahun aku setia. Bertahun-tahun aku berusaha. Bertahun-tahun aku belajar sedikit demi sedikit, sampai aku menjadi lebih baik dan menjadi salah satu yang paling setia kepada-Nya.

Rabu, 21 Mei 2014

Paranoia Kegagalan

"Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda." Kata mereka yang sok bijak.

Selama ini, kupikir itu hanya sebuah wacana. Sebuah omong kosong yang sengaja mereka ciptakan untuk membuat kami --orang-orang yang kurang beruntung-- mempunyai harapan untuk berusaha kembali. Untuk gagal kembali. Menurutku, mereka adalah orang-orang yang keji karena tega membohongi kami. Memberi kami harapan untuk terus berlari walaupun mereka tau kami pasti jatuh. Dan dibelakang kami, mereka tertawa terbahak-bahak melihat ketololan kami.

Karena itulah, aku, berhenti berlari.

Aku sadar aku takkan berhasil. Aku sadar aku telah membuang banyak waktu. Aku lelah mengejar mimpi. Dunia mengajarkanku untuk menjadi orang yang lebih realistis atau mungkin pengalamanku yang mengajarkanku. Aku tersadar, harga diriku terlalu tinggi untuk gagal. Terciptalah wacana baru dalam pikiranku, 'Gagal adalah hal paling hina'.

Aku pun bermetamorfosis menjadi orang yang realistis atau mungkin lebih seperti, pesimis. Memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi nanti. Membuat strategi yang berlebihan hanya untuk hal kecil sekalipun. Agar aku tak perlu lelah berlari diatas treadmill. Terasa jauh, tapi tak kemana-mana. Jika aku tak melihat kesempatan berhasil, takkan sudi aku melangkahkan kaki. 

Semakin lama, paranoia ku akan kegagalan makin memburuk. Aku merasa ada sepasang mata iblis yang mengintaiku setiap saat. Membuatku tak fokus pada rencana yang telah kususun rapih. Membuatku panik setiap menghadapi hal yang seharusnya sepele. Lama-kelamaan, aku pun hanya menjadi seorang penonton, bersama mereka orang-orang sok bijak. Kadang, aku juga ikut menertawakan mereka --orang-orang yang kurang beruntung-- yang dengan tololnya gagal berkali-kali. Paranoia ku makin kronis. Sampai akhirnya 'hari itu' datang.

Beberapa minggu sebelum 'hari itu' datang, aku dihadapkan dengan hal yang baru, hal yang belum ku temui sebelumnya. Hemm, apa ya namanya? Oh ya, CINTA. Kira-kira itulah yang sering mereka katakan. Saat itu, aku bertemu dengan salah satu bidadari surga. Senyum di bibir indahnya sungguh amat menawan. Mata indahnya mampu memompa dada ini sampai ingin meledak. Tawanya, kerendahan hatinya dan segala yang ada padanya membuat rasa dalam dada ini bergejolak hebat.

Sabtu, 23 November 2013

Franklyn (Cerpen)



          “Franklyn! Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Hugo dari kejauhan.
          "Cepat ambil busurmu dan ikutlah berburu bersama kami di hutan!!” Suara Ralf lantang memanggil pemuda bertubuh tambun yang sedang asyik memandangi langit pagi ini.
          “....” Pemuda tambun itu tak menjawab. Dia masih berbaring di atas bukit kecil dekat hutan pinus.
          “Franklyn, ayolah! Kau sudah berada di sana sejak matahari terbit.” Ralf masih menunggu jawaban.
          “Tidak Ralf, kalian bertiga saja yang pergi! Aku tidak ingin berburu!” Franklyn menjawabnya dengan tenang. Tak sedikit pun ia menoleh kearah sahabat-sahabatnya. Kedua bola matanya masih terpaku menatap langit biru yang amat cerah.
          Ralf, sahabatnya yang bertubuh tegap itu memberi isyarat kepada Hugo dan Fulvian untuk bersiap memasuki hutan. Mereka mengangkat kantong anak panah dan sebuah ransel yang telah mereka siapkan. Dengan busur di tangan dan belati yang terselip di pinggang, mereka bertiga terlihat benar-benar siap untuk berburu.
          “Haaah, selalu saja seperti itu.” Fulvian mengikuti langkah Ralf sambil mendengus. Bosan mendengar jawaban yang sama setiap kali mengajak Franklyn pergi berburu.
          “Ya, semoga traumanya itu cepat hilang.” Hugo setengah berharap.
          Santai, tenang, tidak suka hal rumit dan melelahkan. Seperti itulah Franklyn. Dia lebih senang berada di desanya itu daripada harus mengikuti sahabat-sahabatnya pergi berburu. Dia juga sangat mengagumi desa yang berdiri dengan anggun di atas tanah Skandinavia itu. Menikmati keindahan alam desanya yang berkarpetkan rumput hijau, berhiaskan bunga-bunga kecil berwarna kuning yang bertaburan di atasnya. Berbatasan dengan hutan pinus di sisi timurnya dan sungai yang mengalir tenang di sisi baratnya. Dengan latar belakang pegunungan yang melintang dari utara sampai ke timur laut, alam desa itu semakin terlihat indah. Tak jarang Franklyn mengeluarkan selembar kanvas dan beberapa kuas kesayanganya untuk melukis keindahan alam desanya yang kadang dibuatnya sangat indah dan dramatis.
          Terkadang, jika sedang libur dari pekerjaannya di bar, ia berbaring di atas rerumputan hijau dekat sungai, memandang langit sambil meniup seruling yang selalu dibawanya kemana pun ia pergi. Melukiskan keindahan alam dengan nada-nada merdu yang keluar dari serulingnya itu.

          “Hai Franklyn!” Seorang gadis berparas cantik dan berambut coklat panjang mengejutkan Franklyn.
          “Oh, hai Bonnie.” Franklyn tersenyum ramah pada gadis cantik itu.
          Bonnie adalah salah seorang teman baik Franklyn sejak kecil, sama seperti Ralf, Fulvian dan Hugo. Bonnie menjadi satu-satunya perempuan dalam lingkup persahabatan mereka.
          “Apa yang sedang kau lakukan? Mana Ralf dan yang lainnya?” tanya gadis cantik itu dan duduk di sebelah Franklyn.
          “Seperti biasa, mereka pergi berburu ke dalam hutan dan aku melepas lelah setelah seminggu penuh bekerja di bar milik ayahmu itu hahaha,” jawab Franklyn sambil tersenyum.
          Bonnie membalas senyuman sahabatnya itu dengan hangat.
          “Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Franklyn.
          “Aku dari pasar, belanja sayuran, tapi saat perjalanan pulang aku melihatmu dari kejauhan, jadi aku ke sini,” jelas Bonnie. “Mana Ralf, Fulvian dan Hugo?”
          “Ke hutan, pergi berburu.”
          “Berburu? Mmm, sepertinya aku tidak pernah melihatmu pergi berburu bersama mereka, tak pernahkah kau pergi berburu berasama mereka?” kata Bonnie pelan kepada Franklyn.
          “Pernah, hanya sekali, tapi tidak bersama mereka, haha.”
          “Lalu, kenapa kau tidak pernah berburu lagi?” tanya Bonnie sambil mendudukan diri di sebelah Franklyn.
          “Saat itu, aku menyusul Ralf ke dalam hutan untuk berburu dengan mengikuti jejak mereka.”
          “Kau bisa membaca jejak?”
          “Ya, walaupun tak sebaik Ralf dan Hugo hahaha,” Franklyn tertawa dan mendudukan tubuh gemuknya di sebelah Bonnie. “Saat ditengah hutan, aku menemukan seekor rusa yang sangat anggun, lengkap dengan tanduk indahnya yang bagaikan sebuah mahkota.” Ia mulai bercerita.

Rabu, 11 September 2013

Scrapbook (Cerpen)


“Here's a thought for every man who tries to understand
What is in his hands?
He walks along the open road of love and life
Survivin' if he can”

Suara Liam menggema di telingaku. Sore itu, hujan baru saja berhenti. Pekat aroma tanah basah pun merasuk kedalam sistem pernapasanku. Masih menetes butiran-butiran air langit dari atas genting dan dedaunan. Udarapun terasa cukup sejuk sampai membuatku enggan untuk melepaskan jaket parka berwarna hijau army yang sedang kukenakan.
Sore ini, jam sekolah telah selesai. Para siswa pun mulai meninggalkan sekolah. Secara perlahan menyisakan keheningan dan kesunyian. Dan, di sinilah aku. Duduk di bangku panjang yang terbuat dari semen di depan kelas ku. Menunggu seorang wanita yang sangat kucintai selesai kumpul sore dengan klub sainsnya.

“Bound with all the weight of all the words he tried to say
Chained to all the places is that he never wished to stay
Bound with all the weight of all the words he tried to say
As he faced the sun he cast no shadow”

Recap singkat weekend kemarin